Sebuah Pertemuan

image

Foto yang menjadi wallpaper di HPku ini, ku ambil di sebuah persawahan luas kemarin sore, dan mungkin foto ini yang akan menceritakan apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Semoga kau mengerti apa maksud dari tulisanku.

Tak tau ingin kumulai dari mana cerita ini, bingung bercampur kecewa semua perasaan menyatu di dalamnya. Mungkin bagiku sebuah pertemuan tak akan lebih berarti ketika pertemuan tersebut tidak berkualitas, kita bertemu dengan seseorang yang lama tidak kita jumpai. Namun setelah berjumpa, ya hanya kebingungan dan sedikit rasa kecewa yang melanda.

Sebelum pertemuan itu terjadi, berharap bisa melepas semua keluh kesah dan juga mungkin banyak kerinduan terhadapnya.

Komunikasipun terjadi lewat beberapa akun sosial media, berusaha untuk tidak memberitahukan bahwa belum tentu bisa untuk menghadirinya.

Berbagai macam alasan, telah ku keluarkan untuk memastikannya dan berusaha agar supaya dia percaya bahwa aku tidak akan hadir. Setidaknya hal ini sedikit berhasil, namun keberhasilan yang sungguh sangat sedikit ini harus terkalahkan ketika diumumkannya di beberapa sosial media mengenai kehadiranku pada acara tersebut.

Terpaksa aku harus mengakuinya, bahwa aku akan datang. Sehingga ini tidak lagi menjadi sebuah kejutan baginya, first mission is failed. Oke dilanjut lagi ceritanya, setelah satu keinginan memberikan kejutan telah gagal ada langkah selanjutnya yang mungkin sering diingankan banyak orang ketika ingin bertemu dengan orang yang lama tidak kita temui.

Ya apalagi kalau bukan mengabadikan moment dan tentu bercanda gurau bersamanya. Untuk yang pertama (mengabadikan moment) mungkin sudah dapet ya, namun tidak untuk bercanda gurau. Mengapa?

Banyak moment yang terlewatkan dengannya dan harus menyesalinya sampai saat ini. Aku menyadari kalau aku pada saat itu memang tidak ada di saat kau butuhkan (mungkin terlalu PeDe ya, namun itu yang aku rasakan). Ya beruntung ada orang lain yang bisa menenangkanmu dalam masalahmu (bingung apa yang telah terjadi) itu.

Posisiku pada saat itu tidak tau menau apakah kau sudah ada yang punya atau tidak, namun dari gerak-gerikmu yang seperti itu menandakan bahwa kau telah dimilikinya. Tapi ya itu, tak ada cerita dan berita mengenai statusmu (ya mungkin itu memang privasi yang orang lain tidak boleh tau termasuk diriku).

Sempat down juga ketika bertemu dengan wajah yang agak ditekuk, mata agak lebam dan berkaca-kaca, serta warna merah yang tak asing lagi terlihat di kedua mata nampak sangat bersedih. Mencoba untuk mendekatimu dn menanyakan apa yang telah terjadi, namun terlontarlah kata “maaf aku bareng bla bla bla dulu ya“.

Ya akupun nyadar diri, siapa aku dan seberapa besar kebersamaanku dengannya ketika berada di sana. Akupun mempersilahkannya untuk pergi, ya meskipun pada saat itu aku masih tetap melihat kepergiannya (diantara layar gede). Sepintas kulihat kau sedang menangis, ya meskipun kurang jelas dari kejauhan. Namun perasaanku berkata demikian (perasaan sapi).

Tidak salah kau lebih memilih orang lain untuk dijadikan temn ngobrol, curhat, dan bahkan sandaran kesedihanmu. Dan juga yang mampu merangkul dari sampingmu (menepuk pundak). Ya aku sadar pada waktu itu sibuk dan tidak bisa ada untukmu, tapi kan pas malam harinya aku… (ah sudah lah). Memang telat sih, tapi itu sebagai bukti kalau aku masih peduli terhadapmu. Jadi lagi-lagi second mission is failed untuk bisa selalu ada di saat kau membutuhkan tempat curhat.

Kuusahakan keluar dari tempatku berada dan menemuimu, ya itu kulakukan untuk menemanimu. Dan mungkin pas malam itu bertemu, ku sadar bahwa kau telah berubah. Mulai dari berat badan (lebih kurus dari tahun sebelumnya) dan itu membuatku semakin yakin bahwa itu bukan karena tuntutan di area belajarmu namun lebih kepada tekanan batin dan perasaan. Yang kupikirkan pada malam itu hanya ingin menenangkanmu dan ingin tau apa sebenarnya yang telah terjadi.

Kuyakin aku bisa menenangkanmu, dan aku sangat yakin kamu akan menceritakan semuanya. Namun ternyata berbeda jauh dengan apa yang kupikirkan, kesedihanmu semakin bertambah dan juga kau malah menjauh dariku (ya aku tau kau hanya ingin beristirahat). Lagi-lagi ditinggalkan begitu saja, apakah aku harus marah? Apakah harus kecewa? Dan apakah aku harus bersedih?

Jawabannya “IYA“, aku harus marah pada diriku sendiri karena tidak bisa ada di saat kau butuhkan. Aku harus kecewa pada diriku karena tidak bisa membantu mengatasi permasalahanmu. Dan aku harus bersedih karena sebuah pertemuan ini harus menjadi saksi dari kesedihanmu itu.

Kau tidak sadar kan bahwa aku selalu memperhatikanmu, dan kau tidak bakalan tau betapa aku peduli terhadap dirimu. Makanya aku berusaha untuk menanyakannya kepadamu disaat semua orang akan beristirahat. Coretan yang ini anggap tidak ada.

Pada malam itu baru tersadar, siapa aku dan siapa kamu. Memang kita hanya kenal dari setahun yang lalu melalui sebuah blog dengan bergambarkan seorang wanita yang sedang memanjat (itulah dirimu sendiri). Dan berharap disaat pertemuan yang kedua ini semakin membuat kita lebih dekat, dalam artian bisa saling berbagi dan bercerita.

Namun aku sungguh sangat menyesali, di saat ada pertemuan semacam ini. Aku harus melaksanakan tugas yang lain. Kalau akan tau seperti ini, aku lebih memilih dirimu daripada tugas yang harus aku kerjakan pada saat itu. Sudah tau sendiri kan tugasku apa pada saat itu?

Pada intinya mau yang lain mengerti atau tidak dengan ceritaku ini, bodo amat. Yang penting inilah yang kurasakan ketika bertemu denganmu.

Apakah aku masih bisa melihatmu tersenyum lagi tanpa adanya tekanan? Apakah keikhlasan dari senyumanmu akan terpancarkan lagi? Dan apakah kau akan menceritakan semuanya kepadaku? Coba ya kita berdua bisa bertemu di satu tempat tanpa adanya orang lain, sehingga kau bisa mencurahkan segala keluh kesah yang kamu pikul selama ini. Tapi kayaknya hal itu tidak akan mungkin bisa terjadi.

Pagi ini aku tutup ceritaku ini dengan kata Maaf. “Maaf pada saat itu harus memilih pekerjaan, karena dituntut profesionalisme kerja“, coba kalau ada penggantinya, pasti aku akan memilih untuk menemanimu.

Aku masih tetap menunggu semua ceritamu!

Iklan

3 thoughts on “Sebuah Pertemuan

  1. loewyi berkata:

    astaufirullah…. engkok lok taoh apeh ngocak apah, seng jelas, apah se be’na toles jiyah padeh so apah se e geressah so sengkok meskipun ceretannah bideh, coman tak bisa enggkok toles soallah wes kesepakatan… sorry met sorry….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s