2 Mei 2014: Hari Kedua di Rumah Sakit Mukti Husada

Kamis tanggal 2 Mei 2014, sekitar jam 2.15 WIB aku terbangun. Aku kira sudah jam 5, eh ternyata masih jam 2.15 WIB. Satu kata untuk ini “dafuk”, ya gimana coba lagi enak-enakan ngimpi (bukan mimpi jorok, tapi mimpi joged) eh malah kebangun. Apes emang gak boleh joged di dalam mimpi kayaknya, cukup joged di dunia nyata saja. Aku terbangun mungkin karena aku kebelet pengen pipis :p

Ketika kuterbangun, tujuanku pada waktu itu hanya satu yakni melihat jam. Hehe 😀 penting banget melihat jam, soalnya biar tau jam berapa sebenarnya pada waktu itu. Ya karena masih dini hari, aku langsung mengecek keberadaan ebok. Dan alhamdulillah ebok tertidur pulas, bapak juga sedang tidur pulas. Sama-sama nyenyak banget tidurnya.

Kemudian aku balik ke tempat tidurku (tsah tempat tidurku ngaku-ngaku, ya maksudku tempat tidur pasien lain yang belum ditempati). Kupikir jam segini mau ngapain, masih jam 2.20 WIB. Akhirnya aku memberanikan diri untuk melakukan hal yang positif, emang apa? Tidur lagi? Ouw tidak, aku langsung menulis artikel yang kedua ini “2 Mei 2014 : Hari Kedua di Rumah Sakit Mukti Husada”, ya ini adalah hal menyenangkan.

Setelah dapat satu paragraf, kebelet pengen pipis makin tak tertahankan. Lah tadi pas bangun kenapa balik lagi ke tempat tidur? Kok gak langsung ke kamar mandi aja? Ya karena tadi hanya ingin melihat kondisinya ebok, takut ebok gak bisa tidur lagi. Setelah puas ngeluarin semua di toilet, ebok terbangun sejenak. Aku usapin keringat yang membasahi mukanya dengan sehelai tissue, aku menyuruh ebok untuk tidur kembali.

Setelah kupastikan bahwa ebok sudah tertidur lagi, aku langsung kembali ke tempat tidur guna melanjutkan artikel ini. Mungkin kasusnya sama ya dengan hari pertama “1 Mei 2014 : Hari Pertama di Rumah Sakit Mukti Husada”, di hari pertama aku juga menulis artikel pada jam segini. Suasana hening di rumah sakit, tanpa adanya gangguan dari sekitar membuat mood menulisku semakin meningkat.

Ya aku sebenarnya ingin terus melanjutkan tulisan ini, tapi masih belum ada cerita lagi. Jadi lanjutkan nanti lagi ya setelah bangun lagi, jadi sekarang udah mau tidur lagi? Yaeyalah, mukegile kalo aku gak tidur lagi. Emangnya harus ngapain jam segini? Hahaha ya alangkah lebih baiknya tidur lagi, agar besok bisa bangun pagi dan gak kebablasan.

Terpaksa aku memulai lagi cerita ini, inginnya aku tidur makanya kucoba mendengarkan lagu “Sumpah dan Cinta Matiku” by Nidji yang menjadi OST di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Bener sih beberapa menit hampir terlelap, namun harus terbangun karena ebok memanggil. Air infus tiba-tiba macet, dan rencananya aku ingin memanggil perawatnya tapi kuurungkan niatku dan kuperbaiki sendiri agar menetes lagi. Setelah selesai, langsung aku kembali ke tempat tidurku.

Tulisan dilanjut pada jam 10.10 WIB, karena pada waktu pulang ke rumah jam 5.00 WIB langsung tepar. Bangun sekitar jam 9.00 WIB. Ya lumayan lah waktu yang panjang buat tidur pagi, hahaha 😀 bangun bukannya langsung ke kamar mandi tapi ini malah maem terlebih dahulu. Selesai maem langsung capcus boker plus mandi.

Ada satu hal yang terlupakan, yakni “surat keterangan dokter” milik ebok yang belum kuserahkan kepada kepala sekolah tempat ebok mengajar. Dan alhasil aku terburu-buru berangkat menuju ke SDN Branta Pesisir 3. Sesampainya di sekolah, beruntung semua belum pada pulang. Aku langsung menemui kepala sekolah untuk menyerahkan suratnya, sedikit berbincang-bincang dengan kepala sekolah serta guru-guru yang lainnya.

Tanpa panjang lebar, aku betpamitan untuk berangkat lagi ke rumah sakit. Ya perjalanan sekitar 10km, dan sampai di parkiran rumah sakit sekitar jam 10.00 lebih untuk menyerahkan celana ganti kepada bapak dan mengganti kain kasa+perban yg ada di jari kelingkingnya. Ritual selanjutnya adalah melanjutkan menulis artikel ini, dan istirahat lagi. 😀

Sekitar jam 10.30 WIB aku menuju ke Bank Jatim, untuk menanyakan surat kuasa pengambilan uang di sana. Dan ternyata di sana tidak menyediakan surat kuasa untuk perorangan, hanya menyediakan untuk perusahaan dan juga pensiunan. Jadi aku harus membuat sendiri surat kuasanya (ditulis tangan), keluar dari Bank Jatim dengan membawa slip penarikan langsung menuju ke fotocopyan untuk membeli kertas folio, bolpen boxi, dan materai seharga Rp.6.000,-

Ebok sedang diinfus dan beristirahat

Capcus ke rumah sakit langsung, menulis sendiri surat kuasa yang telah dicari contohnya sebelumnya di internet. Dan langsung diterapkan di kerta folio yang kosong tadi. Alhasil jadilah surat kuasa hasil kolaborasi antara SlameTux dan mbah Google. Thank’s ya mbah 😀 yuk cus shalat jum’at terlebih dahulu, lalu langsung berakat nanti jam 1.00 WIB ke Bank Jatim.

Setelah jum’atan sekitar jam 12.45 WIB, aku berangkat ke Bank Jatim. Parkir sepeda dan langsung masuk menuju ke teller, dan duduk rapi di kursi tunggu. Alhamdulillah beberapa saat kemudian nama Ibu Hayati / Bapak Slamet Imam (emang aku udah bapak-bapak? Preketek) disebut dan uang tabungan ebok di Bank Jatim bisa kuambil dengan membawa surat kuasa, slip penarikan dan juga fotocopy ktp plus ktp yang asli. Ya ini uang buat biaya berobat ebok selama berada di rumah sakit, jadi tidak perlu pinjam ke siapa-siapa.

Uang sudah di tangan, eh di saku maksudku, langsung capcus ke rumah sakit dan menyerahkan semua uang yang telah aku ambil tadi. Akupun pamit pulang, karena harus mengambil pakaian ganti milik bapak dan ebok di rumah. HP langsung dicas dan aku sambil istirahat sejenak, tiba-tiba ada panggilan masuk dari hp ebok dan menyuruhku untuk membawa hasil foto rontgen beserta obat-obatan yang didapat dari dokter sebelumnya. Lanjut mandi dan shalat ashar, setelah itu langsung capcus ke rumah sakit. Jadi artikel ini ditulis ketika sudah sampai di rumah sakit sambil menemani ebok.

Setiap hari berlalu lalang orang yang menjenguk ebok, mulai dari sudaranya ebok, ponakannya ebok, besannya ebok, menantunya ebok, dan juga teman-temannya ebok. Ruangan kamar yang tidak terlalu luas dan pengap karena hanya ada kipas angin (ada AC tapi gak bisa dinyalakan, karena gak termasuk ke dalam fasilitas apabila satu ruangan ada dua pasien) membuat suasana semakin panas (baca:gerah).

Walaupun jam besuk dimulai dari jam 6.00 WIB – 21.00 WIB, tetap saja ada yang membesuk ebok lebih dari jam yang telah ditentukan. Ya mungkin karena pada waktu siang tidak ada waktu untuk menjenguk, jadi disempatkan meskipun sudah lewat dari jam besuk. Semoga do’a-do’a dari yang menjenguk terkabulkan semua, sehingga ebok bisa segera sembuh dan sehat seperti sedia kala. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

Artikel ini kembali dilanjutkan ketika menanti infus segera diganti, karena sudah mulai hampir habis. Jadi harus tetap standby untuk memberitahukannya kepada perawat yang sedang bertugas malam ini. Kalau sampai habis, malah akan menyedot darah yang dari dalam ke luar, nah hal ini yang berbahaya. So harus tetap terjaga, seandainya ada seseorang yang menemaniku terjaga hehe asek 😀

Menunggu infus hampir habis tuh seperti nunggu pacar yang tak kunjung tiba eaaa :p akhirnya setelah jam 22.30 WIB, infus pun mulai habis dan aku segera melaporkannya ke perawat jaga. Infus diganti, semua bisa tidur dengan nyenyak. Mulai dari ebok sendiri, bapak, dan aku masih menulis lagi artikel ini. Ya maklum gak ada koneksi internet samasekali di kamar ini, sinyal axis aja lemah banget. Apalagi koneksi internet, ya malahan gak ada samasekali. Menulis bisa meningkatkan rasa ngantuk lebih tinggi lagi, makanya meskipun jam 22.50 WIB seperti ini aku masih tetap menulis ya agar bisa segera tidur.

Inilah alasanku kenapa aku sudah jarang online dan jarang banget membalas chat ataupun email dari temans blogger maupun onliner, karena sinyal dan koneksi internet di kamar Nanas (tempat ebok dirawat) ini memang tidak ada samasekali. Baru bisa sempat membalas ketika sudah pulang ke rumah untuk mengambil sesuatu, dan setelah balik lagi ke rumah sakit rasanya tuh hampa banget alias miskin sinyal dan koneksi tewas seketika.

Barusan sekitar jam 23.00 WIB ebok nanya buburnya udah basi apa belum, ya karena belum basi aku suapin ebok. Semoga malam ini ebok bisa tidur lebih nyenyak lagi, agar besok bisa pulang ke rumah. Sekarang rasa ngantuk sudah menghampiri, mata sudah seperti jendela rumah yang mau ditutup ketika sudah memasuki waktu malam. Berbeda pada saat hari pertama di Rumah Sakit Mukti Husada, hari kedua ini lebih banyak nyamuk. Lebih menguras tenaga juga, karena harus mengurus keperluan di bank.

Untuk malam ini ceritanya sampai di sini saja ya, besok kita lanjutkan ke cerita selanjutnya pada tanggal 3 Mei 2014 : Hari Ketiga dan sekaligus terakhir di Rumah Sakit Mukti Husada.

Iklan

1 Mei 2014: Hari Pertama di Rumah Sakit Mukti Husada

Hari Rabu tanggal 30 April 2014, merupakan hari yang menurutku “hari musibah sekeluarga”. Pasalnya ada beberapa musibah yang menimpa keluargaku, mulai dari ebok (sebutan untuk ibu), bapak, dan termasuk diriku sendiri.

Pertama untuk ebok, ebok sudah hampir tiga minggu sakit tipes. Dan parah-parahnya tuh hari Rabu tanggal 30 April 2014 kemarin. Badannya panas tinggi, kepalanya pusing, dan juga lemas. Hal ini dikarenakan ebok tidak bisa tidur (ya tidurnya pun hanya sekitar 30-60 menit perhari), kata dokternya ebok tuh imsomnia yang sudah hampir tiga minggu mengalaminya.

Selain itu ebok sudah tidak nafsu makan lagi, dan hari rabu kemarin itu memang puncaknya ebok susah untuk dimasuki makanan. Sebelumnya, setiap hari ebok selalu makan roti tawar dan juga bubur (nasi dan sagu).

Cerita mengenai ebok ditunda dulu, lanjut ke cerita bapak. Bapak juga mengalami musibah pada hari rabu, ujung jari kelingking bapak harus kehilangan sebagian daging dan kukunya. Hal ini diakibatkan oleh pecahan kaca yang menyayat ujung jari kelingkingnya, sehingga aku harus memberikan pertolongan pertama kepada bapak.

Aku langsung menuju ke apotek dan membeli obat-obatan, diantaranya adalah betadine obat luka, hansaplast, dan plaster perban. Sekarang jari kelingking bapak sudah mendapatkan pertolongan pertama.

Selanjutnya adalah aku sendiri, pada saat ke ATM di indomaret selatan pom bensin asri untuk mengecek saldo tabungan. Eh ternyata setelah nota keluar, kartu ATM tidak ikut keluar alias nyangkut di dalam. Alhasil mengurus ke bang setempat. Dan ternyata karyawan bank sudah pulang semua, tinggal satpamnya doank. Terpaksa harus diurus pas hari jum’at, soalnya hari kamis libur.

Cerita mengenai ebok aku lanjutkan kembali, ebok sudah sangat lemas, panas banget sekujur tubuhnya, dan juga pusing. Akhirnya aku menelpon mbak Eva (perawat yang bekerja di tempat kerja praktek Dr. Hendarto – Patemon).

Pada waktu itu jam 17.00 WIB lebih sedikit, akupun menelponnya dan menanyakan nomor antrian saat itu. “mbak Eva, sekarang nomor antriannya sudah sampai berapa? Kira-kira bisa gak daftar melalui telpon?” tanyaku, “sekarang antrian sudah mencapai 25, iya bisa silahkan. Dengan nama siapa? Alamat di mana? Dan nomor pasien (ada di kartu pasien) berapa?” begitu jawab mbak Eva.

Aku menyuruh mbak Eva menunggu, soalnya masih mencari kartunya. “nah ini mbak, nama Ibu Hayati, nomor XXXX, alamat Desa Jalmak” jelasku, “nomor antriannya nomor 26, kesini nanti sekitar jam 11 malam, kalau sudah hampir gilirannya nanti saya kabari” begitu jelasnya.

Panas tubuh dan pusing di kepala ebok semakin menjadi, setelah maghrib, setelah isya’ dan menunggu sampai sekitar jam 22.00 WIB akhirnya ada sms dari mbak Eva. “Bisa ke sini sekarang”, langsung aku menyuruh ebok siap-siap dan membawanya ke Dr. Hendarto untuk kontrol lagi.

Akhirnya dari Dr. Hendarto merujuk ebok untuk rawat inap di RSUD Pamekasan, akupun langsung menelpon sepupuku namanya mas Jalal. Aku beritahukan kepadanya kalau ebok harus dirawat inap di Rumah Sakit, dia langsung menyuruhku untuk ke Rumah Sakit dan ketemu di sana.

Sesampainya di rumah sakit, aku dan mas Jalal langsung membawa ebok ke UGD dan diperiksa. Ternyata Kamar di Pafiliun dan juga di Mawar dan lain sebagainya sudah penuh, tinggal tersisa kamar yang di Sal. Ebok butuh ketenangan dan butuh tidur, kalau di kamar sal mana mungkin bisa tidur.

Akhirnya ebok dirujuk lagi ke salah satu rumah sakit swasta yakni Rumah Sakit Mukti Husada, sekitar 3 kilometer dari RSUD Pamekasan ke arah utara. Ya tepat hari Kamis tanggal 1 Mei 2014 ini sekitar jam 00.30 WIB akhirnya ebok masuk di salah satu kamar yakni kamar Nanas.

Ebok diinfus oleh perawat yang ada di Rumah Sakit Mukti Husada Pamekasan

Ebok diinfus dan juga diberi sirup, dan alhamdulillah ebok bisa tidur dengan nyenyak. Ya mungkin ada obat tidurnya kali ya.

(tulisan ini ditulis ketika semuanya sudah beristirahat sekitar jam 1.30 WIB), jadi ada kesempatan menulis ketika menjaga ebok di rumah sakit Mukti Husada. Semoga lekas sembuh ya ebok, dan semoga cepat sehat seperti sedia kala. Aamiin Ya Rabbal’alamin ^_^

Ebok Istirahat

Tulisan dilanjut pagi hari ketika ebok sudah selesai sarapan dan minum obat.

Pagi tadi sekitar jam 4.30 WIB aku kembali ke rumah untuk beristirahat, rencana sih mau memberi makan ayam-ayam dan angsa-angsa yang ada di peternakan. Sampai di rumah langsung boker alias pup, dan shalat subuh. Mata gak kuat karena masih ngantuk, kulanjutkan tidurku di kamarku tercinta.

Alhasil bangunnya kebablasan sampai jam 6.30 WIB, aku bergegas keluar kamar dan Mak (budhe) berkata kalo hewan ternak sudah diberi pakan. Kamar mandi menjadi tujuan utama selanjutnya untuk membersihkan diri alias mandi, serta sarapan pagi memberikan nutrisi baru bagi diri.

Berangkat ke rumah sakit Mukti Husada lagi sekitar jam 7.30 WIB, sampai di kamar ternyata kondisi ebok sudah lebih baik daripada sebelumnya. Alhamdulillah, senang banget melihat kondisi ebok pagi ini. Semoga bisa segera sehat dan bisa segera pulang dari sakit ini.

Perban yang ada di jari kelingking bapak sudah aku ganti dengan yang baru, lukanya pun sudah tidak sesakit sebelumnya. Setelah selesai menggantikan kain kasa dan perban yang mengelilingi jari kelingking bapak, ebok mau disuapin bubur ayam. Aku langsung menyuapinnya, dan senangnya lagi buburnya bisa dihabiskan. Baru kali ini ebok bisa makan lebih banyak lagi, ini pertanda kesehatan ebok sudah mulai membaik.

Banyak tamu yang dateng ke rumah sakit, mulai dari pagi hingga waktu sore hari. Tak lama ada kabar dari masku (Mas Eeng) kalau dia sudah berangkat dari Sidoarjo menuju ke Madura. Mas Eeng tiba di Terminal Pamekasan – Madura, sekitar jam 19.00 WIB. Dia mengirim pesan (sms) kalau sudah sampai di terminal, aku langsung menuju ke terminal untuk menjemputnya.

Dalam perjalanan dari Terminal menuju ke Rumah Sakit (Mukti Husada), kami tidak ada percakapan samasekali. Ya biasa, sama-sama kepikiran dengan keadaan ebok. Sesampainya di rumah sakit, motorku langsung diparkir dan mengantar mas ke kamar ebok dirawat.

Rasa kangen karena sudah sekitar dua bulanan tidak bertemu, akhirnya luluh terpecahkan juga. Mas meneteskan air mata dan rasa kangen sudah terobati ketika bertemu. Istri masku, mbak Novi mulai pagi hari berada di rumah sakit menemani ebok (mertuanya). Masku punya dua orang anak, sehingga harus segera pulang ke rumahnya karena telah kangen ama kedua anaknya. Ya tentunya mas juga kangen ama mereka.

Akupun mulai beristirahat di kamar kasur sebelah (karena satu ruangan berisi dua tempat tidur, dan beruntungnya tempat tidur yang satunya belum ada yang nempati. Jadi bisa leha-leha dan beristirahat di tempat tidur pasien (ikut merasakan jadi pasien), hahaha 😀

Lanjut ke tulisan berikutnya ya yang ke dua, 2 Mei 2014 : Hari Kedua di Rumah Sakit Mukti Husada.