Si Kucing

Beberapa waktu yang lalu, sempat melihat kucing yang sedang breakfast (sok linggis gitu) di sebuah tempat sampah depan kontrakan. Ekspresinya lucu ketika disamperin, pertama sih fokus ama makanannya dan lama-kelamaan karena tau kalo ada yang memperhatikan jadi langsung mendongak.

image

Si kucing merasa agak risih dengan kehadiran orang lain, mungkin dia kira akan merebut makanan yang sedang dicarinya. Akhirnya diapun pergi entah kemana karena ada dua faktor, yang pertama memang sudah kenyang dan yang kedua ya risih dan gak mau diganggu. Dasar kucing… Eh 😀

Jadi pengen banget melihara kucing lagi, setelah melihat banyak kucing yang berkeliaran di depan rumah. Tapi waktunya yang belum tepat, takutnya gak terawat. Ya semoga saja lain waktu bisa memelihara kucing lagi, soalnya kucing tuh lucu banget, gemesin, dan penuh ekspresi.

Iklan

Kucing Manja dan Gemesin

Kucing Manja dan Gemesin | Pagi tadi ketika berencana ingin menghirup udara segar, tetiba ada kucing yang sedang bermalas-malasan di atas pagar. Akupun langsung mengambil hape di kamar untuk mengabadikan moment yang lucu (menurutku sih 😀 ), soalnya jarang-jarang ada kucing diatas pager sambil malas-malasan seperti itu.

Biasanya kucing hanya tidur di atas pager dan kalau ada orang datang, biasanya langsung kabur. Berbeda dengan kucing ini, dia tidak lari namun tetap bermanja-manja di atas pager dan sesekali menengok ke orang yang datang. Mungkin bahasa jawanya tuh “Leyeh-leyeh”, lihat saja tuh tingkah lakunya.

Uniknya lagi, nih kucing bukannya lari ketika ada orang datang. Malah dia nyamperin aku pada saat difoto, hadeh nih kucing memang pengen narsis atau bagaimana ya. hahaha 😀

Kucing Manja dan Gemesin

Lihat saja tingkah laku si kucing ketika nyamperin aku, setelah turun dari pager dia langsung ngendus-ngendusin kaki dan tanganku (emang dikira aku ini makanan apa). Sebenarnya ini adalah teknik kucing untuk mengenali orang lain, ya dengan cara membauinya atau mengendus-endusnya, istilahnya tuh dia PeDeKaTe terlebih dahulu.

Baru kali ini ada kucing liar yang langsung ngedekatin aku seperti itu, biasanya kucing liar yang ada di kontrakan tuh langsung kabur kalau ada orang yang keluar dan mendekatinya. Namun kucing ini berbeda dengan kucing-kucing yang lainnya, dia lebih manja, lebih gemesin, dan lebih lucu.

Geli rasanya ketika kucing ini menggosok-gosokkan badannya ke kakiku (betis dan paha juga), terkadang sambil dijilatin juga. Pokoknya lucu banget nih kucing, coba saja bisa memeliharanya ya di sini.

Kucing Manja dan Gemesin

Ketika aku pindah tempat pun dia juga mengikutiku, aku pindah tempat malah dianya tambah bermanja-manja gitu. Kayaknya nih kucing dah lama banget bermesraan dengan guling, eh maksudku bermanja-manja denganku.

Kucing ini terus menggosok-gosokkan tubuhnya dan mengelilingi aku, dia juga mengaung-ngaung dengan mengeluarkan suara khasnya “Miaaauuuwww”. Ini mungkin karena dia kelaparan kali, makanya dia sampai bermanja-manja seperti itu kepadaku.

Kucing Manja dan Gemesin

Feelingku benar dengan nih benar kalau dia memang lapar, soalnya pada saat dia bermanja-manja denganku. Sesekali kucing ini menjilat-jilat tanganku dan kadang jariku digigit mesra olehnya. Aku hanya bisa diam membiarkannya melakukan semua itu, karena aku suka dimanja-manja seperti itu.

Akupun tidak mau kalah dengannya, aku juga mengelus-elusnya mulai dari ekor, tubuh, perut, kepala, leher, dan juga kupingnya ya meskipun aku tau kalau nih kucing tidak suka dipegang ekor dan kupingnya. Tapi aku ingin memberikan kenyamanan baginya, soalnya tadi memang gak ada makanan sama sekali untuk diberikan kepadanya.

Dia mungkin tidak puas pada saat berputar-putar dan bermanja-manja di bawah, sampai-sampai dia naik ke atas kayaknya mau cipika-cipiki gitu denganku. Aku membiarkannya melakukan kegemarannya itu, soalnya dia tuh lucu banget dan manja banget.

Kucing Manja dan Gemesin

Nah pada saat dia sudah berada di atas dan berada di pelukanku, benar banget dia menciumiku (semoga dia gak mencintai aku 😀 ). Dulu aku juga sempat memelihara kucing, ketika berada di rumah. Ya tingkah lakunya tuh mirip dengan dia, tapi warnanya aja yang beda. Kalau kucingku dulu warnanya hitam putih, nah kalau ini abu-abu.

Kucing memang sangat lucu ketika bersama dengan manusia, karena insting manjanya itu yang bikin gemesin dan greget. Banyak ekspresi yang bisa diabadikan ketika bersamanya, mulai dari ekspresi sedih, lucu, bahagia, marah, bete, pokoknya semua ekspresi bisa dilakukan dengannya.

Terlebih apabila kita sudah sayang dengan yang namanya kucing, misalnya saja nih salah satu temanku yang aku anggap sebagai mbakku sendiri. Sebut saja namanya Mbak Echa, dia adalah pecinta kucing dan segala aktivitasnya bersama kucingnya bisa dilihat di Catatan si Cucuth.

Ya gak jauh berbeda sih dengan ekspresi yang ada di bawah ini, namun ini adalah ekspresi dadakan aja. hehehe

Kucing Manja dan Gemesin

Bagaimana lucu banget kan nih kucing? Oiya, nih kucing belum aku beri nama loh. Kira-kira nama apa yang cocok buat dia ya? Minta pendapatnya donk temans. Terima Kasih 🙂

Ingin MoveON ke Kalender KeCe

Semalem dapet informasi dari TimeLine temen di Twitter, sebut saja Niyasyah yang katanya ngadain GiveAway (GA) gitu, karena penasaran ama tuh link yang ada langsung aja kubuka. Setelah kubuka link yang dishare oleh Niya, ternyata benar banget dia lagi ngadain GA. *dalam hati* baru kali ini ya kamu ngadain GA hehehe 😀 sorry keceplosan.

Tau gak apa hadiahnya? Pake umroh? Wisata keliling Indonesia? Tour ke Eropa?

Semua keliru, hadiahnya lebih berharga daripada itu semua.

Emang apaan hadiahnya?

Mau tau aja apa mau tau banget? Hehehe 😀

Hadiahnya tuh sebuah kalender.

Lah terus kenapa kok bilang berharga banget?

Oke akan kujelasin.

Kalo ada kalender, kita bisa tau kapan hari libur dan kapan gak. Simplenya seperti itu kan, tapi aku ada alasan lain. Alasannya sih aku pengen MoveON ke Kalender yang baru. Lihat saja kalender yang ada di kontrakan, udah jadul dan kadaluarsa kan?
image

Buktinya aja gambar yang ada di kalender minta diganti dan ingin MoveOn juga. 😀 Kalender yang ada di kontrakan terakhir tahun 2011 (dapetnya pas KP dulu), setelah itu gak diganti-ganti lagi. Makanya aku pengen punya kalender yang baru, dan terlebih kalender yang menjadi hadiah GA sangat unik dan menarik. Uniknya di mana? Keunikan kalender ini ada pada gambar yang tertera di setiap lembarnya.
image

Gambarnya adalah hasil lukisan yang menggunakan pensil, yang menggambarkan tempat bersejarah (bangunan-bangunan tua) di kota Gresik. Selain itu, meskipun gambarnya hitam putih. Namun untuk angka hari di kalendernya tetap berwarna (ya bayangin aja kalo semuanya hitam putih, kan repot mengetahui hari apa liburnya).
image

Bagaimana kece banget kan kalendernya? Pokoknya aku harus MoveON, dan itulah sebabnya aku ingin MoveON dari Kalender yang lama (2011) ke kalender yang baru (2014). Udah dua tahun chuyyy aku gak MoveOn-MoveOn, menyedihkan banget ya. Hahaha 😀 Selain dapat kalender Kota Gresik yang super duper kece abis itu, dia juga akan memberikan buku mewarnai serial bangunan bersejarah di kota Gresik.
image

Ini sangat cocok buatku, karena biasanya kalo aku dah pulang pasti berkunjung ke rumah ponakanku. Dan di sana biasanya aku pasti memberikan sesuatu untuknya, do’akan om mu ini ya nak semoga aja beruntung bisa mendapatkan satu paket hadiah (Kalender kota Gresik dan Buku Mewarnai) ini.

Terlebih dari semua itu, intinya di sini aku ingin MoveOn oke!

Sanggar Genjah Arum Tempat Tinggal Juri Kopi Dunia

Selain memiliki julukan sebagai kota kopi, Banyuwangi juga memiliki seorang juri kopi dunia. Siapa lagi kalau bukan Bapak Setiawan Subiakto, atau yang sering dikenal dengan nama Pak Iwan. Beliau merupakan putra daerah dari kota Banyuwangi yang telah mengarungi dunia sebagai juri kopi dunia, sehingga beliau tau betul akan seluk-beluk kopi. Mana kopi yang memiliki kualitas bagus dan mana kopi yang kualitasnya jelek.

Hari Sabtu, 11 Januari 2014. Kami para dblogger diajak menuju ke Sanggar Genjah Arum oleh panitia rombongan setelah puas melihat proses pengolahan kopi yang baik dan benar, sesampainya di tempat parkir terdengar alunan musik tradisional yang sangat mendayu-dayu. Kami semua turun dari dalam bus dengan menaiki beberapa anak tanggal dan melewati sebuah pintu gerbang yang terbuat dari kayu. Ketika berada di dalam, subhanallah ternyata tempatnya asri banget dan rumah yang ada di sana sangat tradisional.

Sanggar Genjah Arum Kemiren

Sanggar Genjah Arum berlokasi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah – Banyuwangi. Di Sanggar Genjah Arum ini, terdapat sembilan rumah adat Using yang letaknya terpisah-pisah dan tidak terlalu jauh. Untuk menuju rumah satu ke rumah lainnya, harus melewati jalanan setapak yang di sisi kiri dan kanan dipenuhi dengan rerumputan serta tanaman-tanaman hias yang membuat penglihatan menjadi segar.

Sanggar Genjah Arum Kemiren Banyuwangi

Rumah yang ada di Sanggar Genjah Arum Kemiren ini merupakan rumah adat Using. Dan sangat tradisional, dengan kayu-kayu yang masih berdiri kokoh menyangga atap, genting, dan dinding bambu. Setelah melihat disekeliling rumah adat Using ternyata bentuk bangunannya hampir sama dengan rumah khas Madura, yang membedakan hanya bentuk kayu atap kuda-kuda. Serta jenis kayu yang digunakan, kalau di Madura biasanya menggunakan kayu jati. Sedangkan untuk Rumah Adat Using menggunakan kayu bendo dan kayu tanjang.

Rumah Adat Osing memiliki dua atap kuda-kuda, dimana atap kuda-kuda yang paling atas lebih panjang dibandingkan dengan atap kuda-kuda yang berada di bawahnya. Untuk yang atas disebut dengan lambang, sedangkan yang bawah disebut dengan jahit pendek. Selain itu sekat ruangan rumah adat Osing dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian depan adalah ruang tamu, bagian tengah adalah kamar tidur dan bagian belakang adalah dapur. Sangat mirip dengan rumah tradisional di Pulau Madura.

Sanggar Genjah Arum Kemiren Banyuwangi

Ketika berkunjung ke Sanggar Genjah Arum, di sana juga terdapat gubuk-gubuk kecil yang menyediakan aneka jajanan, mulai dari serabi colek yang dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair, pisang goreng, dan juga tempe goreng. Semuanya disediakan oleh dua orang mbah putri yang sudah berumur lebih dari 60 tahun. Namun masih tetap semangat memberikan pelayanan yang terbaik bagi para tamu yang datang ke Sanggar ini, jadi teringat almarhum mbah putriku yang sangat sayang kepadaku.

Musik Othek

Berbicara mengenai musik yang mendayu-dayu tadi, pada saat memasuki Sangger Genjah Arum ini kita akan mendengar hembusan musik tradisional. Dan musik tersebut berasal dari bunyi lesung (penumbuk padi) yang terbuat dari kayu, lesung tersebut dipukul-pukul secara berirama oleh empat orang mbah putri yang umurnya juga lebih dari 60 tahun. Namun tetap semangat dalam memainkan musik secara berirama, sungguh sangat luar biasa.

Sanggar Genjah Arum Kemiren Banyuwangi

Menurut mas Ivan yang memandu kami selama berada di Banyuwangi, musik tersebut adalah musik Othek. Musik Othek ini merupakan pertunjukan seni musik yang dilakukan oleh para mbah putri desa Kemiren. Para pemainnya memukul-mukul lesung dengan tongkat (masing-masing terbuat dari kayu) yang biasanya digunakan sebagai penumbuk padi atau kopi. Dari lesung itulah muncul sebuah irama musik tradisional yang sangat indah, biasanya diiringi oleh pemain biola (tradisional) dan juga angklung paglak khas desa Kemiren.

Akupun suka dengan musik yang dibawakan oleh beberapa mbah putri tersebut, makanya aku bela-belain untuk mencari musik tersebut di dunia maya. Alhasil beruntung bisa menemukan dua video ini. Untuk video yang pertama, hanya menampilkan musik tradisional Using dengan menggunakan lesung saja.

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/EYP4C4stMjI" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

Sedangkan untuk video yang kedua, menampilkan musik hanya menggunakan angklung paglak dan biola saja.

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/RSaLRXHYgc0" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

Pada saat berada di sana, bukannya tidak mau mengabadikan musiknya menggunakan video. Dikarenakan kamera yang aku miliki, hasil pengambilan videonya tidak bagus. Makanya daripada menghabiskan baterai dan memory, mending dinikmati langsung melalui telinga. Tapi penyesalan itu sedikit terhapuskan dengan adanya kedua video diatas.

Atraksi Barong Tertua

Selain musik Othek, kami para dblogger juga disuguhi dengan pertunjukan Tari Barong Kemiren. Bagi masyarakat Kemiren, Barong adalah sebuah simbol kebersamaan seluruh warga desa. Tradisi Barongan ini merupakan tradisi yang wajib ada di setiap acara hajatan warga desa Adat Using, misalnya saja pernikahan, sunatan, dan lain sebagainya.

Sanggar Genjah Arum Kemiren Banyuwangi

Barongan sudah berusia lebih dari 100 tahun dan kelompok ini merupakan kelompok Barong tertua di Banyuwangi. Jelas bapak Sucipto sebagai ketua kelompok tari Barong desa Kemiren. Kelompok ini bersifat turun temurun dan memiliki tiga tingkatan dalam perekrutan anggotanya. Sekilas Tari Barong kemiren ini terlihat mirip bahkan sama dengan Barongsai. Namun tari Barong bentuknya sedikit berbeda, dan setiap detail bagian-bagiannya memiliki makna filosofi yang dalam bagi warga desa setempat.

Bar Kopi

Selesai menyaksikan alunan musik Othek dan juga Tari Barong Kemiren, akupun menuju ke meja bar milik pak Iwan. Di sana sudah banyak teman dblogger yang berkumpul mengikuti obrolan ringan bersama Pak Iwan. Beliau membahas mengenai seluk-beluk dari kopi, karena beliau memang expert dalam bidang kopi. Selain paham betul dunia kopi beliau juga ahli dalam meracik kopi, sehingga dihasilkan kopi yang memiliki kualitas tinggi.

Sanggar Genjah Arum Kemiren Banyuwangi

Malam itu benar-benar tidak percaya bahwa aku akan bertemu dengan master kopi yang berasa dari Indonesia. Aku kira master kopi hanya ada di luar negeri saja, eh ternyata Indonesia memiliki seorang Juri Kopi Dunia yang berasal dari kota Banyuwangi. Sungguh sangat spesial malam itu bisa bretemu dengan beliau.

Sanggar Genjah Arum Kemiren Banyuwangi

Di balik bar yang berukuran tidak terlalu besar, pak Iwan dengan santainya ngobrol dan berbincang-bincang ringan dengan temans dblogger mengenai kopi. Alhasil kami semua jadi tau banyak mengenai berbagai jenis kopi dan bedanya, mulai dari kopi Robusta, Arabika, Kopi Luwak (liar maupun peliharaan), kandungan Acid, dan lain sebagainya. Selain itu kami juga mendapat ilmu bagaimana cara mengolah, menyimpan, dan menyeduhkan.

Beberapa saat kemudian, pak Iwan langsung mempersilahkan para temans dblogger untuk menikmati hidangan makan malam yang telah disediakan. Aku sendiri tidak ikut dalam acara makan malam, karena perut masih terasa kenyang akibat kebanyakan makan gorengan tadi dan juga kebanyakan minum. Jadi aku sendiri langsung menuju ke salah satu Teras Rumah adat Using yang cukup luas, dan di situ adalah tempat berkumpul untuk mengobrol lebih panjang dengan pak Iwan dan juga dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi yang juga hadir ke Sanggar Genjah Arum.

Diskusi Santai

Setelah yang lainnya selesai menikmati hidangan makan malam khas adat Using, kemudian seluruh peserta wisata berkumpul di tempatku berada tadi. Nah saatnya berdiskusi santai mengenai kota Banyuwangi ini sendiri, mulai dari wisata, budaya, rumah adat Using kemiren, kopi, dan langkah-langkah apa saja yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan potensi yang ada di kota Banyuwangi.

Untuk pembicara yang pertama adalah Bapak M. Yanuarto Bramuda, lebih akrab dipanggil Pak Bram selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Beliau menyampaikan beberapa hal terkait masalah pariwisata kota Banyuwangi, mulai hal-hal apa saja yang dilakukan pemerintah, dukungan apa saja dari pemerintah terhadap masyarakat, dan juga terkait permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan pariwisata serta mempertahankan kebudayaan lokal.

Pembicara selanjutnya atau yang kedua adalah Pak Iwan sendiri, beliau berbagi pengalaman seputar kompleks Rumah Adat Using koleksinya yang ada di Sanggar Genjah Arum Kemiren-Banyuwangi ini. Setiap sudut bangunan yang terdiri dari sembilan rumah asli Desa Adat Using tersebut memiliki makna filosofis masing-masing.

Semua rumah adat Using yang berada di Sanggar Genjah Arum Kemiren ini, pada teras bagian depan selalu terdapat lantai kaca yang isinya cangkir dan poci. Pada saat salah seorang teman dblogger bertanya langsung kepada Pak Iwan, beliaupun menjawab agar bila akan masuk rumah dia bisa berhenti sebentar untuk mengucap salam. Jadi tidak asal langsung masuk begitu saja ke rumah orang tanpa pamit terlebih dahulu, memang hal ini adalah sebuah pesan yang sarat akan makna.

Menurut Pak Iwan kopi adalah segalanya, karena beliau adalah pecinta kopi. “Saya akan marah jika melihat kopi diletakkan di sembarang tempat.” Kata Pak Iwan. Beliau juga sempat bercerita tentang kemarahannya saat melihat biji kopi dijadikan asbak rokok di salah satu hotel/restaurant ternama. Menurutnya itu suatu penghinaan terhadap kopi.

Di Banyuwangi juga pernah mencapai Rekor MURI di tahun 2011 untuk Sangrai Kopi Massal menggunakan 270 tungku, pada tahun 2012 kota Banyuwangi menjadi tempat ajang Kontes Miss Kopi Internasional yang diadakan di Sanggar Genjah Arum Kemiren, dan di tahun 2013 juga diadakan festival meminum 10.000 kopi di salah satu ruas jalan di Kota Banyuwangi. Pokoknya all about coffee.

Pembicaraan dilanjutkan mengenai kopi, bahwa hal yang paling utama dari pengolahan biji kopi adalah saat menyangrai. Jika cara menyangrai salah, maka dijamin cita rasa kopinya pasti akan hilang. Mitos yang beredar bahwa kopi selalu berwarna hitam pekat itu sebenarnya mitos yang tidak benar. Kopi berwarna hitam pekat itu karena sangrainya yang salah sehingga kopinya menjadi gosong. Apapun yang gosong, pastilah rasanya pahit. Oleh sebab itu kopi identik dengan pahit, ya hal ini lagi-lagi karena salah dalam pengolahannya.

“Semua kopi enak, kecuali kopi sachetan” Kata Pak Iwan.

Sumber foto dari mbak Yuni

Sumber foto dari mbak Yuni

Di akhir sesi diskusi santai, pak Iwan memberikan “KOPAI OSING” Untuk semua blogger memperoleh kaos “I LOVE BANYUWANGI” atau disingkat dengan BWI. Diserahkan langsung secara simbolis oleh Pak Bram kepada perwakilan dari dblogger, yakni aku sendiri.

Gedung Pamer

Setelah selesai acara di Sanggar Genjah Arum, kemudian kami di bawa menuju Banyuwangi Kota dengan menggunakan Bus bandara yang sama. Sesampainya di kota, kami mampir sejenak di Gedung Pamer dan Penjualan produk-produk unggulan Banyuwangi. Sekitar 30 sampai 1 jam berada di Gedung Pamer dan Penjualan ini. “Gedung ini baru dibuka sekitar 2 minggu,” Kata Pak Hary selaku Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pertambangan Kabupaten Banyuwangi.

Gedung Pamer & Penjualan

Gedung pamer ini memang relatif baru dan belum pra launching, namun sudah cukup mendatangkan banyak tamu. Disebelahnya sudah disediakan rumah kopi dengan hiburan yang sudah disiapkan di dalamnya. Semua dblogger langsung diajak untuk ke ruang belakang yang bentuknya adalah rumah joglo khas rumah adat Using. Pak Hary mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami, dan sebagai bentuk ucapa terima kasih serta kenang-kenangan dari beliau. Kami semua mendapatkan mendapat souvenir khas Kota Banyuwangi, untuk yang laki-laki mendapatkan penutup kepala atau udeng khas Using, sedangkan untuk yang perempuan mendapatkan slayer khas Using dan pin satu-persatu.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Banyuwangi tak hanya dikenal sebagai Kota Kopi dan tempat wisata pantainya yang sangat luar biasa indahnya, namun dibalik itu ada lagi tempat wisata keluarga yang cocok untuk menambah ilmu pengetahuan tentang lingkungan. Salah satunya adalah Margo Utomo Agro Resort, yang terletak tak jauh dari pusat kota Kalibaru.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Tepatnya di Jl. Lapangan No.10 Ds. Kalibaru, Banyuwangi – Jawa Timur. Konsep dari Resort ini sangatlah unik dan sangat berbeda dengan resort-resort yang lainnya. Margo Utomo memberikan pemandangan alam berupa perbukitan, sungai, perkebunan, dan peternakan yang menjadikan tempat ini begitu sejuk dan asri. Serta di dukung oleh keramahan penduduk sekitar yang sangat luar biasa.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Satu hal yang sangat menarik dari resort ini adalah fasilitas yang disediakan di sini benar-benar mengoptimalkan apa yang telah disediakan oleh alam. Resort ini memang memaksimalkan apa yang ada di sekitar mulai dari peternakan, perkebunan, hingga kebersihannya pun di jaga. Mungkin aku tidak akan terlalu banyak mengupas apa yang ada dan fasilitas apa saja yang disediakan oleh Margo Utomo Resort ini, yang jelas aku akan berbagi informasi mengenai kegiatanku dan 14 teman dblogger lainnya ketika berada di sana.

Pemerahan susu sapi

Hal pertama sebelum masuk ke dalam Margo Utomo adalah bertemu dengan bapak Arie yang menjadi tour guide kami berkeliling di area resort ini, disini kami diajak untuk melihat beberapa tempat yang menjadi daya pikat tersendiri bagi para tamu hotel. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah peternakan sapi, kedua perkebunan, dan ketiga taman serta resort yang ada di sekitar Margo Utomo.

Tujuan pertama yakni ke peternakan sapi perah, nah di sini pak Arie memperkenalkan kami para dblogger kepada Pak Sudi selaku manager peternakan. “Pemerahan sapi disini dilakukan 2 kali, pagi dan sore. Dengan jeda waktu 12 jam, apabila pemerahan pertama dilakukan pada jam 7 pagi, maka pemerahan kedua juga dilakukan pada jam 7 sore (malam).” Jelas pak Sudi.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Pak Sudi juga menjelaskan bahwasanya seekor sapi bisa menghasilkan kurang lebih 5 – 25 liter susu, dan hasil perahan susu di peternakan Margo Utomo ini untuk disajikan kepada para tamu yang tengah menginap sebagai menu sarapan pagi. Susu yang didapat dari hasil pemerahan tadi kemudian diolah menjadi keju, sisanya dibuat susu dalam kemasan murni dan dijual ke Banyuwangi, Jember, dan Bali. Dan di bawah ini adalah tempat pengolahan susu sapi sehingga menjadi keju.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Proses pemerahan susu yang dilakukan di peternakan Margo Utomo ini sudah dengan cara yang modern yakni menggunakan mesin pemerah susu, sehingga hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk memerah susu sapi. Berbeda apabila masih menggunakan cara tradisional yang biasanya diperah secara manual menggunakan tangan, yang tidak efisien dan juga akan membuang-buang waktu.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Kami juga diperbolehkan untuk memeras susu sapi sendiri, temans dblogger ada yang langsung mencoba kesempatan yang diberikan oleh pengelola peternakan susu sapi perah ini. Ada yang langsung berhasil memerah susu sapi, dan ada juga yang masih dalam tahap belajar untuk mengeluarkan susu sapinya.

Agrowisata Margo Utomo

Kemudian kami diajak berkeliling oleh Pak Arie di perkebunan Margo Utomo yang luasnya sekitar 15 Hektar. Masuk ke dalam perkebunan ini seperti masuk ke dalam hutan yang kanan dan kiri hanya menemukan tumbuhan saja dan tidak akan menemukan rumah.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Di perkebunan ini terdapat banyak sekali tanaman kebun yang sering digunakan untuk keperluan sehari-hari, mulai dari pala, lada, cengkeh, kayu manis, vanili, kopi, durian merah, kelapa, dan coklat. Dari berbagai macam tumbuhan yang ada di sana, aku hanya mencicipi kayu manis dan air gula aren yang langsung diambil dari pohonnya. Serasa memiliki perkebunan sendiri kalau seperti itu, akan tetapi kami tidak mengelilingi semua lahan perkebunan yang ada di sana. Kami hanya berkeliling tidak sampai dari 1 hektar, karena kaki sudah terasa pegal dan juga banyak nyamuk yang menyerang.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Puas melihat-lihat dan menikmati hasil perkebunan yang ada di Margo Utomo, kemudian kami diajak menuju pusat hotel Margo Utomo sendiri. Hotel Margo Utomo banyak dikunjungi turis dari manca negara terutama dari Eropa, karena bagi mereka masih memiliki hubungan khusus dengan tempat tersebut. Dan di hotel Margo Utomo ini, tamu hotel bisa berenang di kolam yang ada. Sungguh terasa nikmatnya apabila memiliki hunian sebagus ini, memang konsepnya sederhana. Hanya ada kolam renang, dengan rumah tradisional yang dipenuhi berbagai tumbuhan di sekelilingnya.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Di setiap hunian terdapat berbagai macam tanaman hijau serta bunga-bunga yang cerah dan menawan. Menyenangkan banget kalau memiliki hunian sekeren dan seindah yang ada di Margo Utomo ini, asri banget tempatnya. Bangunannya tradisional, namun inilah yang membuat hotel ini sangat unik dan menarik, serta green and clean banget.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Tak hanya tanaman hijau saja yang ada di Margo Utomo, di sana juga memelihara hewan. Salah satunya adalah Kalong atau kelelawar raksasa. Kelelawar ini ukurannya memang tidak lazim, bentar sayap bisa mencapai setengah hingga satu meter. Kelelawar yang ada di Margo Utomo ini memang jinak, tapi untuk yang baru dikenal rasakan saja cengkraman kakinya dan kadang ya sampai digigit juga. Soalnya aku sudah menjadi korban gigitan dari Kalong atau kelelawar raksasa ini.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Sebagian besar pekerja yang ada di Margo Utomo rata-rata adalah orang Madura, ada yang dari Pamekasan dan Sumenep (yang aku tau). Jadi aku berada di sana tidak merasa canggung untuk ngobrol bahasa Madura. Di sana banyak Taretan Dibi atau bahasa Indonesianya adalah Saudara Sendiri.

Dari serangkaian tour kami di Margo Utomo, mungkin yang ditunggu-tunggu temans dblogger adalah makan siang. Mengapa makan siang? Ya setelah berkeliling di perkebunan tadi dan juga menghabiskan tenaga, maka perut harus diisi dengan tenaga kembali. Jadi saatnya memanjakan perut alias makan siang di resto yang ada di dalam Margo Utomo.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Menu makanan yang disediakan di Margo Utomo ini lumayan bervariasi, mulai dari Ayam Lemon, Sawi Hijau Tahu, Nasi Putih, Sop Ayam Jagung, dan sebagai pencuci mulutnya disediakan Pepaya Lemon.

Keju, Susu, dan Agrowisata di Kota Banyuwangi

Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren – Banyuwangi

Kopi Jaran Goyang | Banyuwangi dulunya dikenal sebagai kota pisang, karena kabupaten Banyuwangi memang penghasil pisang terbesar di Indonesia. “Di setiap pekarangan rumah penduduk biasanya selalu ada pohon pisang, tapi sekarang sudah berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Pertumbuhannya kalah pesat dengan kota Lumajang, makanya sekarang Banyuwangi sudah bukan sebagai kota pisang lagi melainkan kota kopi, dan digantikan oleh kota Lumajang.” Kata mas Ivan (mantan Jhebing Tholek tahun 1999), pada saat briefing di kantor Pendopo Bupati Banyuwangi hari Sabtu tanggal 11 Januari 2014 kemarin.

Kebun Kopi

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwasanya kota Banyuwangi sudah bukan lagi kota pisang, melainkan sebagai kota Kopi. Ini sudah jelas terbukti ketika berwisata ke Teluk Hijau, di samping kanan dan kiri terdapat banyak perkebunan kopi. Tak hanya kopi saja, bahkan banyak tanaman lainnya yang ditanam di sini mulai dari pohon karet, kelapa, cokelat, damar, tebu, danmasih banyak lainnya.

Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren - Banyuwangi

Ini adalah bukti bahwa Banyuwangi memang kota Kopi. Selain di sekitar perkebunan yang menuju ke Teluk Hijau, perkebunan kopi yang terbesar berada di Belawan, yang posisinya tepat berada di bawah Gunung Ijen. Taste kopi yang dihasilkan dari perkebunan ini bercita rasa tinggi.

Kopi Jaran Goyang

Berbicara masalah kopi, ada kopi murni yang diproduksi oleh masyarakat desa adat Using Kemiren dengan nama Kopi Jaran Goyang. Kopi ini diproduksi dengan cara tradisional dan tanpa diberi tambahan bahan apapun. Biasanya untuk kopi-kopi yang bermunculan di sekitar kita, contohnya saja di daerahku tinggal. Di sana bukannya kopi murni lagi, melainkan ada yang sudah dicampur dengan jagung, dicampur dengan beras, dan dicampur dengan gula pasir.

Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren - Banyuwangi

Selama ini memang itu yang dilakukan orang-orang di desaku ketika mengolah kopi, dan mungkin olahan seperti itu kurang baik atau bahkan tidak benar. Proses pengolahan kopi yang baik dan benar bisa dipelajari dari para pemuda di desa adat Using Kemiren, mereka menyebut dirinya sebagai Pathok (Paguyuban Tholek Kemiren). Mereka mendapatkan informasi dan juga tips dari seorang tokoh ternama yang menjadi tester kopi dunia yakni Bapak Setiawan Subekti atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan Pak Iwan.

Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren - Banyuwangi

Untuk pengolahan Kopi Jaran Goyang ini bisa menyimak langkah-langkah yang ada di bawah ini. Semuanya menggunakan peralatan yang tradisional, jadi kualitas kopi akan tetap terjaga. Biji kopi yang digunakan adalah biji kopi yang berasal dari perkebunan kopi di Banyuwangi. Para penduduk desa adat Using Kemiren tidak mengimpor kopi dari kota lain, mereka mengandalkan hasil buminya sendiri.

Proses Pengolahan Biji Kopi yang Baik dan Benar

Sebelum membahas mengenai beliau, alangkah baiknya membahas bagaimana proses pembuatan yang baik dan benar menurut teman-teman Pathok ini sendiri. “Pengolahan kopi yang baik dan benar itu mas tidak harus gosong dan tidak harus berwarna hitam.” Jelas salah satu anggota dari Pathok. Berbagai macam teknik agar bisa menghasilkan kopi yang berkualitas, dan ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelumnya.

  1. Sortir Biji Kopi

    Biji Kopi yang akan disangrai atau digoreng, sebaiknya dipilih terlebih dahulu. Mana biji kopi yang memiliki ukurang kecil, mana biji kopi yang memiliki ukuran sedang, dan mana biji kopi yang berukuran besar. Hal ini agar pada saat disangrai, tidak ada yang gosong.

  2. 600 – 800 gram Biji Kopi

    Setelah selesai proses sortir biji kopi, kemudian ditimbang biji kopi yang akan disangrai. Kalau memiliki biji kopi satu kilogram, usahakan dikurangi hingga 6 ons atau 600 gram. Idealnya orang menggoreng biji kopi, memang hanya sebatas 6 sampai 8 ons saja. Lebih dari itu tidak dianjurkan, karena hal ini berpengaruh nantinya ke hasil sangrai.

  3. Suhu Kurang Lebih 220 Derajat

    Sebelum suhu benar-benar panas hingga mencapai 220 derajat selsius, sebaiknya biji kopi tidak dipasang ke wajan penggorengan terlebih dahulu. Terus bagaimana cara mengetahuinya? Caranya cukup mudah, hanya dengan meneteskan air di atas penggorengan saja. Biasanya kalau sudah mencapai 220 derajat, maka tetesan air akan langsung hilang dan langsung menjadi asap. Saat seperti itulah suhu sudah mencapai 220 derajat.

  4. Sangrai Kopi Selama 15 – 20 Menit

    Apabila suhu sudah mencapai 220 derajat selsius, maka langkah yang selanjutnya adalah menyangrai atau menggoreng kopi yang dilakukan selama kurang lebih 15 hingga 20 menit. Dengan ketentuan, pada 5 menit pertama ayunkan sutil ke depan dan ke belakang secara perlahan. 10 menit berikutya temponya lebih dicepatkan daripada sebelumnya, namun jangan terlalu cepat. 15 selanjutnya naikkan lagi kecepatan mengaduknya, agar semua biji kopi tidak ada yang gosong dan hasilnya bisa merata.

    Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren - Banyuwangi

  5. Kipas-kipas Sampai Dingin

    Selesai menggoreng atau menyangrai biji kopi, tidak boleh langsung ditumbuk. Hal ini akan mengurangi dan bahkan akan menghilangkan aroma kopi yang sesungguhnya. Sebaiknya kipas-kipaslah dengan kertas kardus atau menggunakan kipas sate, Kenapa kok tidak memakai kipas angin saja biar lebih cepat? Tanya seorang teman dblogger. Ya agar lebih tradisional saja, sebenarnya tidak apa-apa. Akan tetapi biar terkesan tradisional semuanya, tanpa adanya bantuan peralatan modern jawab salah satu anggota Pathok.

    Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren - Banyuwangi

  6. Diamkan Selama 3 Malam

    Biji kopi yang sudah didinginkan, tidak bisa langsung untuk ditumbuk. Karena harus didiamkan ditempat yang tertutup terlebih dahulu selama kurang lebih 3 malam, agar aroma kopi menyebar ke semua bagian dari biji kopi dan tersimpan di dalamnya.

  7. Tumbuk Biji Kopi

    Biji kopi baru bisa ditumbuk setelah selesai didiamkan, menumbuknyapun juga menggunakan peralatan tradisional. Nama alatnya adalah Lesung, dengan sebuah lesung yang terbuat dari kayu ini akan tetap menjaga aroma kopi dan tidak tercampur dengan besi. Tumbuk hingga halus dan diayak, sampai tidak ada sisanya.

    Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren - Banyuwangi

  8. Simpan Serbuk Kopi

    Simpan serbuk kopi yang halus tadi di dalam Tupperware atau tempat tertutup lainnya, dan usahakan apabila ingin meletakkannya di dalam lemari pendingin. Jangan sampai dimasukkan semuanya, sisakan untuk dikonsumsi sehari-hari yang sekiranya cukup untuk satu minggu atau untuk satu bulan. Apabila semua dijadikan satu dan setiap hari harus keluar masuk lemari es, maka akan mengurangi kualitas dari serbuk kopi. Pisahkan serbuk kopi dengan rempah-rempah atau makanan yang berbau menyengat, karena kopi akan menyerap bau disekitarnya dengan cepat.

Proses Penyeduhan Kopi yang Baik dan Benar

Setelah selesai proses pengolahan biji kopi hingga menjadi serbuk dan tersimpan, selanjutnya adalah proses penyeduhan kopi yang baik dan benar.

  1. Air Panas

    Jangan sekali-kali menyeduh kopi dengan menggunakan pemanas air galon atau dispenser, usahakan untuk memasak air terlebih dahulu ke kompor gas atau ke tungku. Yang penting suhu bisa mencapai 100 derajat selsius, kalau menggunakan dispenser atau pemanas biasa suhunya hanya mencapai 80 derajat selsius.

  2. Satu Sendok Kopi Bubuk

    Idealnya tuangkan satu sendok bubuk kopi ke dalam cangkir atau gelas kosong, lebih juga boleh karena tergantung selera masing-masing.

  3. Aduk Pelan

    Setelah selesai memasukkan serbuk kopi ke dalam gelas, kemudian tuangkan sedikit air sekitar 30 ml terlebih dahulu. Aduk pelan mengikuti arah jarum jam, setelah tercampur rata tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk. Ingat mengaduknya tidak boleh cepat, karena akan menurunkan ampas kopi ke bawah. Dan apabila ampas sudah turun, maka aroma kopi tidak akan terperangkap lagi dan langsung hilang. Ampas kopi sebagai penyangga aroma saja agar tetap berada di dalam kopi.

  4. Tambahkan Gula

    Bagi yang tidak suka dengan pahitnya kopi, bisa dengan menambahkan sedikit gula (tergantung selera). Dan usahakan jangan terlalu banyak menambahkan gula, bukannya meminum kopi malah seperti minum air gula.

    Kopi Jaran Goyang Khas Desa Adat Using Kemiren - Banyuwangi

Seperti itulah bagaimana cara mengelola biji kopi yang baik dan benar, sehingga dihasilkan kopi yang berkualitas. Tips sederhana ini bisa dilakukan oleh siapapun dan dari daerah manapun, yang membedakan hanya dari biji kopi dan cara pengolahannya saja. Sekali lagi, karena selera masing-masing orang tidak akan sama dan yang jelas pasti berbeda.

NB: Semua informasi mengenai kopi ini diperoleh ketika berada di Desa Adat Using Kemiren pada tanggal 11 Januari 2014. Apabila anda ingin memesan Kopi Jaran Goyang ini, bisa langsung menghubungi nomor yang tertera pada bungkus kopi.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

Puas menikmati surga dunia yang ada di Teluk Hijau, temans dblogger diajak untuk mengintip matahari terbenam di Pulau Merah. Seharian berwisata mulai dari melihat langsung matahari terbit dari ujung timur Pulau Jawa hingga menikmati keindahan alam di pantai Rajegwesi, Teluk Damai, dan eksotisme Teluk Hijau. Tetap di dalam kecamatan yang sama yakni Pesanggaran Banyuwangi, perjalanan pulang dari desa Sarongan menuju ke Desa Sumberagung untuk melakukan destinasi wisata yang selanjutnya. Tujuan wisata selanjutnya adalah melihat langsung matahari terbenam dari Pulau Merah, jadi dalam satu hari penuh dengan wisata pantai.

Perjalanan pulang dari Teluk Hijau, berbeda pada saat berangkat. Jalur yang dilewati sama pada saat berangkat, namun yang membedakannya adalah suasana dan juga kecepatan mobilnya. Suasana pada saat itu (12/1/2014) mendung dan agak gerimis. Cuaca kurang bersahabat, berharap mendung segera hilang ketika berada di Pulau Merah nanti. Mata tetap terjaga ketika yang temans dblogger yang lainnya sudah memejamkan kedua matanya di dalam mobil land rover yang kami naiki.

Waktu yang ditempuh dari Teluk Hijau ke Pulau Merah, kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan. Sangat mudah untuk menemukan jalan akses menuju ke Pulau Merah, karena disetiap jalan sudah terdapat papan petunjuk yang diletakkan setiap 2 km menuju ke tempat wisata tersebut. Jalan masuk menuju ke Pulau Merah sangat halus dan tidak ada jalanan yang rusak, ya mungkin konsepnya memang berbeda dengan jalur akses menuju ke Teluk Hijau.

“Saya jarang mengantarkan wisatawan ke Pulau Merah ini, biasanya saya lebih sering mengantarkan wisatawan ke jalur-jalur ekstrim seperti ke Pantai Rajegwesi, Teluk Merah, dan Alas Purwo, Baluran, Plengkung, Kawah Ijen, Pantai Grajagan, Pantai Sukamade, pokoknya banyak mas.” Begitulah ungkap bapak driver jeep/land rover yang kami tumpangi. Kesalahan kemarin pada saat liburan dan diantarkan bapak drivernya, lupa tidak menanyakan nama beliau. Saking asiknya ngobrol, sehingga sampai lupa untuk tidak menanyakan namanya.

Jelas lah bapak drivernya lebih sering ke jalur ekstrim, soalnya kan mobil yang dikemudikan memang khusus jalur ekstrim dan medan yang berat. Di dalam perjalanan aku berusaha agar tidak tertidur, karena menemani beliaunya ngobrol. Dan yang jelas ini menambah informasi yang didapatkan langsung dari sumber yang terpercaya dan yang memang sering menjadi tour guide selama di dalam mobil.

Setelah panjang lebar ngobrolin tentang wisata yang ada di Banyuwangi, perjalanan akhirnya sampai di Pulau Merah. Sepintas kalau dilihat-lihat untuk pantai seperti di Kuta-Bali. Mulai dari konsep pengelolaan, hingga suasana yang mirip dengan pantai Kuta. Namun yang bikin beda adalah sebuah pulau tepat berada di depan pantai yang diberi nama Pulau Merah. Pulau ini memiliki warna tanah merah, dikarenakan tertutup oleh pepohonan maka warna dominan tanah yang merah tertutupi oleh rimbunnya dedaunan pohon yang hijau. Pantai yang ada di sana juga diberi nama Pantai Pulau Merah, di sana juga banyak anjing berkeliaran namun tidak sebanyak yang ada di pantai Kuta.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

Tak lama kemudian beberapa temans dblogger termasuk aku sendiri menemui salah satu pemuda yang menjadi ketua pengelola wisata Pantai Pulau Merah atau yang disebut dengan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI). Sebut saja dia Yogi, yang menjadi motor penyemangat dan penggerak bagi pemuda lainnya untuk terus mengelola dan mengembangkan objek wisata yang ada di Pulau Merah.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

Kami pun berbincang-bincang bebas di sebuah warung yang nyaman untuk nongkrong. “Ombak yang ada di Pantai Pulau Merah bisa menjadi tujuan peselancar pemula, amatir dan profesional. Berbeda dengan Pantai Plengkung yang hanya bisa dinikmati oleh peselancar profesional, akses jalan menuju ke Pulau Merah lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dengan kondisi jalan yang mulus daripada ke tempat lain.” Jelas Yogi.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

“Pada tahun 2007 Pulau Merah mulai dibuka untuk umum, dan karena pengelolanya para tetua desa sempat vakum hingga tahun 2009. Baru dibuka lagi oleh PKRI (Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia)” Tambah Yogi. Konsep pantai Pulau Merah memang mengambil konsep dari Pantai Kuta-Bali, karena PKRI sempat mengirim 4 orang perwakilan untuk di training ke Bali. Selama 2 tahun mereka berada di sana, memperdalam konsep dan bagaimana caranya agar wisata di Pulau Merah juga bisa maju.

Banyak Potensi terkait dengan Pulau Merah, diantaranya adalah pulau-pulau yang ada disekitarnya, ombaknya sangat cocok untuk surfing (beginer, surfer, dan guide surfer). Terkadang ombak di sekitar Pulau Merah dan pulau-pulau disekitarnya tenang, dan dilengkapi dengan watersport juga. Mulai dari jetsky, banana boat, snorkling di depan Pulau Merah dan di pulau-pulau sekitarnya dengan karang yang masih alami (spot snorkling lebih dari 10 apabila ditelusuri lebih lanjut), fishing, ya potensi Pulau Merah itu sendiri, Pulau Manuk, Pulau Bedul, Pulau Mustaka, dan pulau-pulau yang lainnya. Selain ombaknya yang bagus untuk surfing, keberadaan gugusan pulau-pulau juga menambah keindahannya.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

Semua pulau, baik Pulau Merah maupun pulau-pulau yang ada di sekitarnya semuanya tidak berpenghuni. Apabila pengunjung ingin pergi untuk berwisata ke pulau-pulau yang ada di sana, bisa dengan menggunakan jasa yang telah di sediakan. Untuk ke Pulau Merah sendiri bisa ditempuh dengan berjalan kako apabila air laut sedang surut, tapi kalau air laut sedang pasang biasanya tidak akan ada yang ingin menginjakkan kaki di Pulau Merah, ini terkait dengan ombak yang ada di sana. Di desa Sumberagung juga memiliki dua teluk, yakni Teluk Wedi Ireng dan Teluk Candean.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

“Pantai Pulau Merah juga pernah menjadi tempat Surfing Competition, tepatnya pada bulan Mei 2013 lalu” Jelas Yogi. “Tahun sebelumnya pemerintah kota Banyuwangi sudah pernah mengadakan lomba balap sepeda dengan tema Tour De Ijen, dan tempat finishnya ada di Pulau Merah ini. Tambah Yogi. Setiap minggunya rata-rata pengunjung yang datang ke Pulau Merah ini sekitar 400-500 orang, sedikit memang untuk lingkup wisata sebagus dan seluas Pantai Pulau merah ini. Namun untuk long weekend dan ketika ada event besar, maka pengunjung yang datang bisa sampai ribuan bahkan puluhan ribu. Pada saat event, puluhan ribu orang yang datang. Pasir aja tidak kelihatan dan parkir bisa penuh sampai tidak ada lahan parkir.” Jelas Yogi.

Mengenai alat transportasi, tidak ada angkutan umum yang masuk ke wisata Pulau Merah, penupang hanya bisa turun di Pesanggaran. Biasanya orang yang akan berkunjung ke Pulau Merah menggunakan bus (rombongan), travel, dan bisa dengan menggunakan jasa ojek yang telah menunggu di Pesanggaran. Wisatawan yang berasal dari luar negeri biasanya berkunjung ke Pulau Merah ini pada bulan 5 dan 6, karena pada bulan-bulan tersebut ombak di Pulau Merah memang besar dan cocok untuk Surfing.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

“Sehari-hari operator surfing ada 5-6 operator untuk pemandung surfing, serta ada penyewaan surfboard juga. Objek wisata Pulau Merah juga memiliki area hutan untuk argrowisata, karena sebagian besar memang dikelilingi oleh area perkebunan. Di sini memang yang paling terkenal adalah ombak dan sunsetnya, sunset akan terlihat bagus sekitar jam 5 atau jam setengah 5 sore. Istimewanya lagi kalau sore pada sore hari, awannya bisa berbentuk 3 Dimensi. Sehingga bisa menikmati sore di bawah payung teduh sambil melihat keindahan matahari terbenam.” Jelas Yogi.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah

Pada saat berkunjung ke Pulau Merah kemarin, kami para dblogger tidak cukup beruntung. Dikarenakan agak gerimis dan awan mendungpun menutupi matahari. Jadi kami tidak bisa melihat keindahan matahari terbenam dari Pantai Pulau Merah, yang kami bisa hanya mengintip saja. Dan itupun tidak bisa memuaskan kedua mata, pemandangan sekitar lah yang akhirnya menggantikan keindahannya.

Mengintip Matahari Terbenam di Pulau Merah